Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

KISAH INSPIRATIF PETANI MISKIN YANG MAMPU MENDIRIKAN BANK DENGAN CABANG RATUSAN

KISAH INSPIRATIF PETANI MISKIN YANG MAMPU MENDIRIKAN BANK DENGAN CABANG RATUSAN

#BeritaSeputarNusantara #MomenSeputarNusantara

DI sebuah sudut kampung di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, lahirlah sebuah perubahan besar dari tangan seorang lelaki sederhana bernama Masril Koto.


Tak banyak yang menyangka, pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 4 SD itu, mampu membangun sistem keuangan rakyat yang menyelamatkan ribuan bahkan jutaan petani dari jeratan rentenir.

Awal perjalanan itu dimulai pada tahun 2002. Saat itu, Masril hanyalah petani kecil yang ingin memperbesar usaha kebun ubi jalar dan budidaya lele miliknya. Seperti petani lain, ia membutuhkan modal. Dengan penuh harapan, ia mendatangi bank konvensional untuk mengajukan pinjaman.

Namun jawaban yang ia terima sangat menyakitkan. Permohonannya ditolak mentah-mentah. Alasannya sederhana, tetapi mematikan bagi petani kecil, yaitu tidak punya agunan, tidak punya sertifikat tanah, dan penghasilannya dianggap tidak tetap.

Masril pulang dengan kecewa. Tetapi yang lebih membuat hatinya gelisah bukanlah penolakan itu, melainkan kenyataan bahwa hampir semua petani di desanya mengalami nasib yang sama.

Karena tak punya pilihan, mereka terpaksa meminjam uang kepada rentenir dengan bunga mencekik. Hasil panen habis untuk membayar utang. Mereka bekerja keras, tetapi tetap miskin. Semakin lama, semakin terjebak.

Masril muak melihat keadaan itu. Ia sadar, masalahnya bukan pada petani yang malas, tetapi pada sistem keuangan yang memang tidak berpihak pada mereka.

Dari situlah tekadnya tumbuh. Meski hanya lulusan kelas 4 SD, Masril tidak minder. Ia mulai berkeliling menghadiri seminar-seminar perbankan secara swadaya. Ia nekat mendatangi kantor-kantor bank hanya untuk belajar bagaimana sistem keuangan bekerja.

Banyak orang meremehkannya, banyak orang yang tidak percaya dengan kemampuannya. Namun Masril punya keyakinan, orang kecil juga bisa membangun bank sendiri.

Kesempatan datang ketika ia mengikuti Sekolah Lapangan yang diadakan Dinas Pertanian. Di sana, ia bertemu dengan akademisi dan alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Melalui Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Unand (AFTA), Masril mendapat pembekalan sederhana tentang akuntansi dan pembukuan yang bisa dipahami petani.

Ilmu itu menjadi fondasi. Tetapi ilmu saja tidak cukup. Ia butuh modal.

Lalu lahirlah ide yang saat itu dianggap gila.

Masril menjual “saham bank” kepada para petani seharga Rp100.000 per lembar. Banyak yang menertawakan.

“Petani bikin bank? Mana mungkin?”

Namun Masril terus meyakinkan mereka.

“Kalau kita beli saham ini, berarti kita pemilik banknya. Sama seperti orang-orang kaya di kota.”

Dari warung ke warung, dari rumah ke rumah, ia bergerak tanpa lelah. Sedikit demi sedikit, kepercayaan tumbuh.

Sebanyak 200 petani akhirnya bergabung, dan terkumpullah modal awal sebanyak Rp15 juta.

Jumlah yang kecil, tetapi lahir dari mimpi besar.

Empat tahun kemudian, pada 2006, berdirilah LKMA Prima Tani, yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai Bank Tani atau Bank Petani.

Inilah bank milik petani, oleh petani, untuk petani. Sistem yang dibangun Masril sangat berbeda. Ia memakai konsep tanggung renteng.

Setiap petani tergabung dalam kelompok. Jika satu orang gagal membayar, maka kelompoknya ikut bertanggung jawab. Sistem ini membangun rasa saling menjaga, kejujuran dan solidaritas.

Hasilnya luar biasa. Tingkat kredit macet sangat rendah. Petani bisa mendapatkan modal dengan mudah, tanpa agunan, tanpa birokrasi rumit, dan tanpa bunga mencekik.

Di awal perjalanan, LKMA Prima Tani sempat menghadapi tekanan hukum. Lembaga itu dituding menghimpun dana secara ilegal karena belum berbadan koperasi resmi dan belum memiliki izin formal.

Namun Masril tetap berdiri teguh. Ia menjelaskan bahwa lembaga itu bukan untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan milik komunitas petani yang dibangun bersama untuk menyelamatkan kehidupan mereka.

Waktu akhirnya membuktikan. Model yang dibangun Masril terbukti berhasil, dan keberhasilan itu menarik perhatian pemerintah pusat. Pola LKMA Prima Tani kemudian diadopsi oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia, sebagai salah satu inspirasi program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP).

Dari sebuah nagari kecil di Agam, gerakan itu menyebar, hingga ratusan cabang lahir di berbagai daerah.

Lebih dari 500 cabang hingga 900 unit lembaga keuangan mikro berbasis petani berdiri mengikuti jejaknya.

Dana ratusan miliar rupiah berputar.

Jutaan petani terbantu. Banyak keluarga keluar dari lingkaran utang, dan banyak lahan kembali produktif, serta banyak mimpi yang dulu terasa mustahil kini menjadi nyata.

Kisah Masril Koto adalah bukti bahwa pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju perubahan besar. Ia tidak punya ijazah tinggi, tidak punya modal besar. Ia bahkan pernah ditolak sistem. Tetapi ia punya sesuatu yang lebih kuat, keberanian melihat masalah, kemauan belajar, dan tekad untuk memperjuangkan orang-orang kecil.

Dari seorang petani miskin, ia menjelma menjadi arsitek ekonomi kerakyatan, dan dari tangannya, lahirlah satu pelajaran penting.

Kadang, solusi terbesar bagi rakyat kecil justru lahir dari rakyat kecil itu sendiri.

Posting Komentar untuk "KISAH INSPIRATIF PETANI MISKIN YANG MAMPU MENDIRIKAN BANK DENGAN CABANG RATUSAN"